"hal yang paling menyakitkan...... saat kalian berhasil melupakan kenangan dan ada orang yang tanpa sadar mengingatkan kenangan tersebut"
Dia satu sekolah denganku.... simple. Tidak ada masalah dengan hal itu karena kami tidak pernah bertegur sapa. Masa lalu akan menjadi masa lalu. Dia? sampai saat ini berhasil dilupakan. setidaknya sampai saat ini.
2007
Udah lebih dari 3 tahun yang lalu. Mungkin benar, kami hanyalah anak kecil. Tapi aku tau satu hal yang aku sadar saat itu, aku bahagia. Dulu aku kamu strranger, aku bahkan gak tau nama kamu di awal pertemuan. Kamu tau harus berapa banyak pertemuan sampe aku tau..... kamu.
pertemuan pertama: hanya melihat
pertemuan kedua: hanya melihat lagi. Sweater putih bergaris hijau? inget? Aku masih inget
pertemuan ketiga: aku tau nama kamu.
pertemuan keempat: kita beradu dalam salah satu kompetisi bahasa inggris.
pertemuan kelima: hanya melihat lagi. sweater cokelat? Bodoh, aku tetap mengingatnya. Kamu tau yang namanya kebetulan? dengan kebetulan aku punya teman yang satu sekolah dengan kamu, juga temen deket kamu. Dari situ aku tau nama akun kamu. It is real beginning...
pertemuan ketujuh: kita beradu dalam salah satu kompetisi lagi. Kebetulan itu bodoh ya, kebetulan guru pendamping kami berteman dan dari situ kami "berkenalan"
15 maret 2008.
Kamu tau? saat itu aku gugup. Duduk bersebelahan dengan orang yang "dulunya" stranger. Aku masih inget... semuanya
Bagaimana kita berebut bayar minum, kamu bilang "baru kali ini aku liat cewe kayak kamu, biasanya cewe gak mau dibayarin". Bodoh, aku tetap mengingatnya (lagi)
Bagaimana kita main sama anak kecil, lalu mereka bilang "kakak pacaran ya, kok berdua mulu?". Aku lirik kamu, dan kamu tersenyum.
Saat aku mau sholat, dan guru pendamping kamu bilang sholat dengan kamu. Kamu jadi imam, aku jadi makmum. Aku..... seneng
Saat kita berdua sama-sama menang. Aku bahagia, aku dapat dua pengalaman sekaligus. menang dan kamu. Bodoh, pikiran anak kecil macam apa itu!
September 2011
aku lupa kamu, bukan lupa semuanya. Aku hanya lupa perasaanku saat liat kamu di sekolah yang sama. Kupikir itu bagus, aku punya kehidupanku. Kamu punya kehidupanmu. Hingga di bulan ini aku dapet secarik kertas dari temanku. Sebuah puisi. Dari kamu.
Untuk pertama kali aku nekat untuk nyamperin kamu. Hanya untuk sekedar bilang terimakasih. Aku lihat kamu dengan kamera DSLR itu.
Aku: "makasih ya, puisinya bagus."
Kamu: "Ah iya, sama-sama. Jelek ya, mba?"
Aku: "bagus kok, anyway kenapa bikin itu?"
Kamu: "itu tugas dari Mba Nia, katanya itu buat kamu jadi semangat. Berhubung Mba mau pergi ke Jerman. Biar mba inget aja, sebenernya"
Aku: "o-oh cuman tugas:)"
Hanya tugas. Tidak boleh berharap lebih. Benar, ini nyata. Mungkin waktu itu kami terlalu muda, aku kamu yang masih berumur tak lebih dari 13 tahun. Kamu punya dia, aku punya dia. Berbahagialah.....
Jangan sekarang. Nanti saja. Aku kejar mimpiku dulu, aku akan kuliah di Jerman. Kamu kejar mimpimu menjadi dokter. Sekali lagi, berbahagialah.....
2007
Udah lebih dari 3 tahun yang lalu. Mungkin benar, kami hanyalah anak kecil. Tapi aku tau satu hal yang aku sadar saat itu, aku bahagia. Dulu aku kamu strranger, aku bahkan gak tau nama kamu di awal pertemuan. Kamu tau harus berapa banyak pertemuan sampe aku tau..... kamu.
pertemuan pertama: hanya melihat
pertemuan kedua: hanya melihat lagi. Sweater putih bergaris hijau? inget? Aku masih inget
pertemuan ketiga: aku tau nama kamu.
pertemuan keempat: kita beradu dalam salah satu kompetisi bahasa inggris.
pertemuan kelima: hanya melihat lagi. sweater cokelat? Bodoh, aku tetap mengingatnya. Kamu tau yang namanya kebetulan? dengan kebetulan aku punya teman yang satu sekolah dengan kamu, juga temen deket kamu. Dari situ aku tau nama akun kamu. It is real beginning...
pertemuan ketujuh: kita beradu dalam salah satu kompetisi lagi. Kebetulan itu bodoh ya, kebetulan guru pendamping kami berteman dan dari situ kami "berkenalan"
15 maret 2008.
Kamu tau? saat itu aku gugup. Duduk bersebelahan dengan orang yang "dulunya" stranger. Aku masih inget... semuanya
Bagaimana kita berebut bayar minum, kamu bilang "baru kali ini aku liat cewe kayak kamu, biasanya cewe gak mau dibayarin". Bodoh, aku tetap mengingatnya (lagi)
Bagaimana kita main sama anak kecil, lalu mereka bilang "kakak pacaran ya, kok berdua mulu?". Aku lirik kamu, dan kamu tersenyum.
Saat aku mau sholat, dan guru pendamping kamu bilang sholat dengan kamu. Kamu jadi imam, aku jadi makmum. Aku..... seneng
Saat kita berdua sama-sama menang. Aku bahagia, aku dapat dua pengalaman sekaligus. menang dan kamu. Bodoh, pikiran anak kecil macam apa itu!
September 2011
aku lupa kamu, bukan lupa semuanya. Aku hanya lupa perasaanku saat liat kamu di sekolah yang sama. Kupikir itu bagus, aku punya kehidupanku. Kamu punya kehidupanmu. Hingga di bulan ini aku dapet secarik kertas dari temanku. Sebuah puisi. Dari kamu.
Untuk pertama kali aku nekat untuk nyamperin kamu. Hanya untuk sekedar bilang terimakasih. Aku lihat kamu dengan kamera DSLR itu.
Aku: "makasih ya, puisinya bagus."
Kamu: "Ah iya, sama-sama. Jelek ya, mba?"
Aku: "bagus kok, anyway kenapa bikin itu?"
Kamu: "itu tugas dari Mba Nia, katanya itu buat kamu jadi semangat. Berhubung Mba mau pergi ke Jerman. Biar mba inget aja, sebenernya"
Aku: "o-oh cuman tugas:)"
Hanya tugas. Tidak boleh berharap lebih. Benar, ini nyata. Mungkin waktu itu kami terlalu muda, aku kamu yang masih berumur tak lebih dari 13 tahun. Kamu punya dia, aku punya dia. Berbahagialah.....
Jangan sekarang. Nanti saja. Aku kejar mimpiku dulu, aku akan kuliah di Jerman. Kamu kejar mimpimu menjadi dokter. Sekali lagi, berbahagialah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar